Loading...
Dunia modern saat ini tidak bisa lepas dari perangkat lunak (software). Mulai dari aplikasi di ponsel, sistem kasir di toko, hingga platform e-commerce besar — semuanya merupakan hasil dari proses yang disebut software development. Tapi, apa sebenarnya software development itu, bagaimana tahapan pembuatannya, dan metode apa saja yang digunakan oleh tim developer profesional?
Software Development atau pengembangan perangkat lunak adalah proses merancang, membangun, menguji, dan memelihara program komputer agar dapat menjalankan fungsi tertentu. Tujuannya adalah menciptakan solusi digital untuk mempermudah pekerjaan manusia, meningkatkan efisiensi, dan menyelesaikan masalah bisnis.
Proses ini tidak hanya melibatkan penulisan kode (coding), tetapi juga analisis kebutuhan, desain sistem, pengujian, dan perawatan jangka panjang. Dalam praktiknya, software development melibatkan kolaborasi antara berbagai peran seperti developer, tester, UI/UX designer, project manager, dan tim QA.
Software Development Lifecycle (SDLC) atau siklus hidup pengembangan perangkat lunak adalah kerangka kerja yang digunakan untuk menggambarkan tahapan pembuatan software dari awal hingga akhir.
Berikut tahapan-tahapan utama dalam SDLC:
Pada tahap ini, tim melakukan diskusi dengan klien atau pengguna untuk memahami kebutuhan bisnis dan fungsi yang diinginkan dari software. Hasilnya berupa dokumen spesifikasi kebutuhan (SRS - Software Requirement Specification).
Tahap ini berfokus pada bagaimana software akan bekerja secara teknis. Termasuk desain arsitektur, pemilihan teknologi, perancangan database, dan antarmuka pengguna (UI/UX).
Inilah tahap di mana developer mulai menulis kode sesuai desain yang sudah disepakati. Setiap modul dikembangkan dan diuji secara terpisah sebelum digabung menjadi satu sistem utuh.
Setelah pengembangan selesai, software diuji untuk memastikan tidak ada bug atau kesalahan. Pengujian dilakukan secara manual maupun otomatis menggunakan tools seperti Selenium, Jest, atau PHPUnit.
Setelah dinyatakan siap, software diimplementasikan ke lingkungan produksi agar bisa digunakan oleh pengguna akhir. Proses ini bisa dilakukan bertahap (rollout) atau sekaligus (full release).
Setelah software digunakan, tim tetap memantau performa dan melakukan pembaruan berkala. Tahap ini termasuk perbaikan bug, peningkatan fitur, serta adaptasi dengan perubahan kebutuhan pengguna.
Dalam menjalankan SDLC, setiap perusahaan atau tim developer biasanya menggunakan metodologi pengembangan tertentu. Tujuannya agar proses lebih terstruktur, efisien, dan mudah dikelola.
Berikut tiga metodologi paling populer yang digunakan saat ini:
Metode klasik di mana setiap tahap dilakukan secara berurutan — dari analisis hingga maintenance. Kelebihannya mudah dipahami dan cocok untuk proyek dengan kebutuhan yang stabil. Namun, kekurangannya: sulit beradaptasi jika ada perubahan di tengah proses.
Agile adalah pendekatan modern yang berfokus pada fleksibilitas dan kolaborasi. Proyek dibagi menjadi bagian-bagian kecil yang disebut sprint, dan setiap sprint menghasilkan versi software yang bisa langsung diuji atau digunakan.
Prinsip Agile:
Scrum adalah implementasi populer dari Agile. Dalam Scrum, proyek dibagi menjadi sprint berdurasi 1–4 minggu. Tiap sprint memiliki tujuan jelas dan hasil yang dapat diukur. Tim bekerja dalam peran tertentu seperti:
DevOps adalah gabungan dari “Development” dan “Operations”. Pendekatan ini menekankan kolaborasi antara tim pengembang dan tim operasional untuk mempercepat proses build, test, deploy, dan monitoring.
DevOps sering memanfaatkan alat otomatisasi seperti Docker, Jenkins, Kubernetes, dan GitHub Actions agar deployment lebih cepat dan stabil.
| Metodologi | Ciri Utama | Kelebihan | Kekurangan |
|---|---|---|---|
| Waterfall | Tahapan berurutan dan kaku | Mudah dipahami, cocok untuk proyek kecil | Tidak fleksibel terhadap perubahan |
| Agile | Iteratif, kolaboratif, fleksibel | Cepat beradaptasi, hasil lebih cepat terlihat | Butuh komunikasi intens antar tim |
| Scrum | Iterasi pendek (sprint) dengan peran khusus | Terukur, efisien, dan transparan | Butuh disiplin dan peran yang jelas |
| DevOps | Integrasi development dan operations | Deployment cepat, otomatisasi tinggi | Perlu keahlian teknis dan alat pendukung |
Software development bukan hanya soal menulis kode, tapi juga tentang memahami kebutuhan pengguna, mendesain solusi, dan memastikan produk terus berkembang seiring waktu. Dengan memilih metodologi yang tepat — baik Agile, Scrum, maupun DevOps — tim dapat menghasilkan perangkat lunak yang lebih efisien, stabil, dan sesuai kebutuhan bisnis.
“Software yang baik bukan hanya berfungsi dengan benar, tapi juga terus beradaptasi dengan kebutuhan penggunanya.”