Loading...
Pernah ngerasa gini? Kamu udah ngulik Flutter berbulan-bulan. Bikin UI? Bisa. Connect API? Aman. Tapi pas buka lowongan Flutter developer 2025, tiba-tiba muncul istilah kayak “Flutter Clean Architecture,” “Riverpod,” sampe “automated testing.” ๐ต๐ซ
Tenang, kamu nggak sendiri. Tahun 2025, industri mobile development makin menuntut developer Flutter buat punya skill yang lebih komplet, terstruktur, dan scalable. Flutter bukan sekadar bikin UI cantik — tapi bikin aplikasi yang modular, maintainable, dan production-ready.
Tahun ini, banyak perusahaan nggak lagi mau ngeliat code spaghetti. Mereka pengen codebase yang rapi, terstruktur, dan mudah dikembangkan tim. Clean Architecture jadi standar utama. Kamu wajib ngerti konsep separation of concern, domain layer, use case, dan dependency injection.
Testing bukan cuma buat QA. Flutter developer modern harus bisa bikin automated test. Perusahaan butuh jaminan kalau fitur yang dirilis nggak akan rusak diam-diam.
flutter_test, mockito, dan integration_testKalau kamu masih pakai setState di semua halaman, waktunya upgrade. Tahun 2025, state management harus scalable dan maintainable.
App lambat = user kabur. Flutter bisa cepat, tapi cuma kalau developernya tahu cara mengoptimalkannya.
RepaintBoundary, hindari rebuild berlebihanconst, StatelessWidget, dll.Tahun 2025 Flutter bukan cuma mobile. Banyak startup dan BUMN sudah coba Flutter Web untuk dashboard, bahkan Flutter Desktop untuk internal tools. Kamu nggak harus jago semua platform, tapi paham dasar deployment web & desktop itu nilai plus besar.
Integrasi login sosial media, Google Sign-In, OTP, dan proteksi role-based access wajib kamu kuasai. Semakin banyak aplikasi real-world yang butuh ini.
Flutter itu kuat karena ekosistemnya. Tapi kamu harus tahu paket mana yang worth it, dan kapan harus bikin solusi custom.
Banyak Flutter developer sekarang dituntut bisa bikin prototype fullstack. Maka, ngerti backend ringan kayak Supabase atau Firebase jadi keunggulan besar.
Kamu juga bakal diminta ngerti cara release app ke Play Store dan App Store dengan cara yang otomatis dan efisien.
Kalau dulu cukup ngerti widget, sekarang kamu dituntut ngerti arsitektur, testing, bahkan proses DevOps. Tapi jangan takut—semua itu bisa dipelajari bertahap.
Saran terbaik: pilih 1 skill yang kamu lemah, dan commit 1-2 minggu buat fokus di situ dulu. Sedikit demi sedikit, kamu akan jadi Flutter engineer yang siap menyambut 2025 — bukan cuma survive, tapi thrive! ๐ช